Latest News

Kekurangan Gadget dengan Sistem Baterai Tanam

Setelah kita bicara tentang kelebihan Gadget dengan sistem baterai tanam, sekarang kita juga akan bahas kekurangan gadget dengan sistem baterai tanam. Baiklah, bicara soal kekurangan dan kelebihan terkadang manusia sering terjebak oleh satu sudut pandang saja. Padahal ada banyak sekali sudut untuk memandang suatu masalah, oleh karena itu kali ini kita coba terbuka saja soalan tema kita kali ini. Meskipun pihak pembuat gadget dengan sistem baterai tanam menjamin produknya, tetapi yang bernama manusia selalu tidak pernah luput dari kesalahan. Produk gagal akan tetap selalu ada, hanya saja soalan ketelitian ketika para penjaga kualitas produk menyeleksi hasil karya perusahaan untuk dipasarkan.
Kekurangan Gadget dengan Sistem Baterai Tanam (www.businessinsider.com)

Setiap Baterai memiliki Usia isi ulang

Sekalipun produk gadget dengan sistem baterai tanam telah diberikan kemampuan lebih daripada gadget yang biasa. Tetapi baterai juga memiliki usia isi ulang, hal tersebut yang selama ini menjadi masalah pada tataran dunia teknologi gadget. Pertimbangan inilah yang mestinya menjadi konsentrasi para konsumen yang ingin membeli gadget dengan sistem baterai tanam, tetap saja baterai akan aus/soak ketika umur isi ulangnya telah habis. Selain usia baterai, faktor yang lain misalnya ketika gadget mengalami crush, atau macet pengguna mengalami kesulitan ketika tombol power tak dapat digunakan lagi untuk mematikan gadget. Lain halnya jika terjadi pada gadget dengan sistem non baterai tanam, pengguna gadget dapat dengan mudah langsung melepas baterainya ketika gadget mengalami crush sekalipun itu beresiko dapat merusak gadget. Jika kasus ini terjadi pada gadget dengan sistem baterai tenam, tentu saja pengguna harus sabar dan menunggu hingga baterai gadget habis, lalu mengisi ulang baterai saat gadget sudah kehabisan dayanya.

Tidak Bebas Mengganti saat Baterai Soak/Aus

Keterbatasan teknologi baterai yang dapat bertahan lama, belum ditemukan formulasinya. Sekalipun ada, itu masih dalam bentuk prototipe yang berukuran besar, para peneliti masih harus mencari bahan lain agar dapat diterapkan pada teknologi gadget. Jika kelak smapai ditemukan teknologi baterai yang memadai, semisal dengan hanya satu kali isi ulang baterai gadget dapat bertahan selam 100 tahun atau bahkan lebih. Tentu saja hal kita tak perlu lagi repot-repot membahas kekurangan gadget dengan sistem baterai tanam. Tetapi tahap itu masih berada jauh di depan, sebab itulah kita bahas kekurangan gadget dengan sistem baterai tanam. Salah satunya adalah, pengguna tidak dapat bebas mengganti baterai dengan bebas, barangkali ini adalah salah satu dari konsekuensi sistem jaminan keamanan, kenyamanan, dan kualitas yang diberikan produsen gadget.

Kesimpulan

Selain faktor usia baterai, lalu ketidak-leluasaan mengganti baterai saat baterai aus, dan saat gadget mengalami crush. Faktor yang tak kalah penting adalah jika terjadi kejadian gadget basah kuyup terkena air, sementara pangguna tak dapat dengan segera melepas baterai gadget maka, jelas sudah akan terjadi hubungan arus pendek (konsleting) pada papan pcb gadget. Kejadian ini amat fatal, dan barangkali itu adalah faktor yang paling fatal bagi gadget yang memiliki sistem baterai tanam. Jika kejadian gadget terkena air terjadi pada gadget dengan sistem non baterai tanam, maka pengguna dapat dengan cepat dan mudah melepas baterai gadget sebelum hubungan arus pedek terjadi pada semua bagian papan pcb gadget. Dan akhirnya dapat mengeringkannya kembali dengan mudah, tanpa harus pergi ke bengkel resminya karena umumnya beaya untuk perbaikan tidaklah murah. Begitulah ulasan tentang kekurangan gadget yang memiliki sistem baterai tanam, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Anda yang ingin membeli gadget dengan spesifikasi baterai tanam.